Bupati Blora Arief Rohman Pemersatu Cepu Raya

Bupati Blora Arief Rohman Edit Karakter

Mungkin inilah saatnya saya harus mengakui bahwa Bupati Blora periode 2019-2024 Arief Rohman adalah pemersatu kawasan Cepu Raya. Mungkin tulisan ini tidak akan berarti apa-apa. Biar bagaimana, "Ya biar gak gimana-gimana." Tapi saya yakin suatu saat sejarah akan turut mengakui bahwa Bupati Blora Arief Rohman adalah Pemersatu Cepu Raya. Bupati Blora pertama yang sungguh-sungguh memperjuangkan pembangunan Kawasan Cepu Raya.

Pengakuan ini telah tersimpan lama. Saya merasakan pada saat awal-awal Arief Rohman sebagai seorang Wakil Bupati Blora. Embah-embah dulu menyebutnya dengan istilah Patih Blora. Semenjak menjadi seorang Patih, Arief Rohman telah banyak menurunkan proyek dari pusat untuk daerah-daerah lingkar utama Cepu Raya. Menata kembali kolam pemandian Kedungpupur Ledok Sambong sampai membangun joglo dan Gedung Pertemuan segala. 

H Arief Rohman SIP MSi sangat mengenal baik secara personal para tokoh masyarakat maupun Kepala Desa di lingkar inti Cepu Raya. Sangat memperhatikan ekonomi kreatif sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan ketahanan pangan. Pernah pula mencoba menggandeng Bojonegoro untuk menghidupkan wisata bengawan Solo, dengan memanfaatkan kedekatan personalnya dengan Bupati Bojonegoro Doktor Anna yang sesama alumni pondok Jombang. 

Puncaknya perjalanan awalnya adalah dengan berhasil dibangunnya Bandara Ngloram sebagai bandara komersial. Penyatuan akses masyrakat Blora Bojonegoro difasilitasi lewat pembangunan Jembatan. Wacana pembangunan Bendung Gerak yang akan menyatukan Ngawi, Cepu, Tuban, Bojonegoro tetap dikejarnya. Makin banyak pihak yang melirik untuk investasikan modal ke Kawasan Cepu Raya, meski karena pandemi menjadi tertunda.

Di masa pemerintahannya, Dana Bagi Hasil Minyak yang sekian lama tidak terasa menjadi tumbuh dan berkembang secara signifikan. Bupati Blora Arief Rohman juga tak jemu menggandeng civitas akademika, perusahaan-perusahaan besar untuk mendukung Visinya :  "Sesarengan mBangun Blora" serta menjadikan Kawasan Cepu Raya sebagai obyek pembangunannya. 

Mendekat ke SKK Migas, PERTAMINA, PERHUTANI.  Perguruan-perguruan tinggi lokal skala regional STTR Cepu, skala nasional STEM Cepu, dan lembaga pendidikan pelatihan migas terbesar se Asia Tenggara PPSDM Migas Cepu pun didekati dengan berbagai cara. Dikirim anak-anak Blora melalui beasiswa untuk mencetak generasi penerus unggulan Kabupaten Blora. Dan semua itu terjadi di Cepu Raya. 

Dari sisi pribadi, Arief Rohman sangat tawadhuk pada orang yang dianggap lebih tua, meskipun itu hanya orang biasa saja, meski pada eks-eks lawan politiknya. Tak segan mencium tangan mantan Bupati Blora Djoko Nugroho. Sungguh mengejutkan hati orang-orang yang mengetahuinya. Itulah seorang Arief Rohman. Manusia tetaplah manusia. Sebagai manusia biasa, mungkin Arief Rohman tak luput dari salah dan dosa. Semua wajar saja. Namun, mau tak mau kita harus mengakui bahwa Arief Rohmanlah pemersatu Kawasan Cepu Raya. Itu faktanya. 

Dan sebagai pendukung pendapat saya, di bawah ini terdapat beberapa berita yang secara eksplisit maupun implisit dapat memperkuat pendapat saya bahwa Bupati Arief Rohman Pemersatu Kawasan Cepu Raya. 

BKAD Badan Kerjasama Antar Daerah Ratubangnegoro

Badan Kerjasama Antar Daerah Ratubangnegoro

Keberadaan Badan Kerjasama Antar Daerah (BKAD) Ratubangnegoro dimanfaatkan sebagai pemacu semangat pembangunan berbasis kawasan bersama yang terus digaungkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora.

Pemkab Blora ingin memaksimalkan keberadaan Bandara Ngloram guna mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan perbatasan Jateng dan Jatim.

Tidak hanya Blora, Tuban, Rembang dan Bojonegoro, bahkan juga menggandeng Pemkab Ngawi dan Grobogan.

Hal ini diungkapkan Wakil Bupati Blora Tri Yuli Setyowati ST MM saat mewakili Bupati Blora H Arief Rohman SIP MSi, dalam acara serah terima sekretariat BKAD Ratubangnegoro dari Blora ke Tuban di Bandara Ngloram, Jumat (31/12/2021).

Di depan Wakil Bupati Ngawi, dan para perwakilan Pemkab se Ratubangnegoro dan Grobogan, Wabup Tri Yuli meminta agar seluruh daerah yang saling berbatasan ini bisa kompak untuk mendukung operasional Bandara Ngloram.

"Kami mewakili Bapak Bupati Arief Rohman, ingin mengajak Kabupaten tetangga untuk bisa ikut memanfaatkan Bandara Ngloram sebagai pintu gerbang pertumbuhan ekonomi kawasan bersama. Karena bandara ini dibangun pemerintah pusat tidak hanya untuk Blora, namun juga untuk kabupaten kawasan di perbatasan Jateng bagian timur dan Jatim bagian barat sesuai pesan Pak Menteri Mensesneg," ungkap Wabup Tri Yuli.

"Monggo kita sukseskan bersama, silahkan dikabarkan di wilayah masing-masing bahwa bandara Ngloram yang ada di Kecamatan Cepu, Blora ini sudah beroperasi. Sehingga kunjungan kerja dan investasi daerah lebih terbuka dengan mudah," tambah Wakil Bupati.

Sementara itu, Sekda Blora Komang Gede Irawadi, SE., M.Si., mengajak Kabupaten kawasan Ratubangnegoro plus Ngawi dan Grobogan bisa membangun sektor pariwisata bersama, yang berbasis potensi alam dan kekayaan budaya lokal.

"Penataan kawasan wisata dan budaya untuk menarik kunjungan ke daerah perlu kita lakukan bersama-sama. Mari kita sambut Bandara Ngloram ini dengan saling bekerjasama," ucap Sekda Komang.

Gagasan inipun langsung dituangkan dalam penandatanganan kesepakatan bersama 4 Kabupaten BKAD Ratubangnegoro tentang pemanfaatan dan pengembangan Bandara Ngloram.

Wakil Bupati Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko, M.H., M.Si., pun mengapresiasi kekompakan 4 kabupaten yang tergabung dalam BKAD Ratubangnegoro. Menurutnya Ngawi pun siap untuk ikut mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan ini.

"Apalagi kedepan kita juga akan ada proyek nasional bersama, Bendung Gerak Karangnongko yang berlokasi di perbatasan Blora, Bojonegoro dan sampai Ngawi," ucapnya singkat.

Turut hadir dalam kesempatan itu, Kepala Bakorwil I Bojonegoro Agung Subagyo, S.STP, M.Si., Forkopimda Blora, Asisten Pemerintahan Pemkab Blora, dan OPD terkait. 

Bupati Bojonegoro Doktor Anna Mu'awanah tandatangani peresmian jembatan terusan Blora Bojonegoro

Jembatan Terusan Bojonegoro - Blora Diresmikan

Menteri Sekretaris Negara Indonesia (Mensegneg) Prof. Dr. Pratikno, M.Soc, Sc meresmikan jembatan Terusan Bojonegoro - Blora (TBB) di sungai Bengawan Solo yang menghubungkan antara Desa Luwihaji Kecamatan Ngraho, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur dan Desa Medalem, Kecamatan Kradenan Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Minggu (3/1/2021).

Mendampingi Mensesneg Pratikno dalam peresmian jembatan TBB yakniMenteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Ir. Mochamad Basoeki Hadimoeljono, M.Sc, Menteri Perhubungan Ir. Budi Karya Sumadi, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, SH, M.IP, Bupati Blora Djoko Nugroho dan Bupati Bojonegro Dr. Hj. Anna Mu'awanah.

Menteri Sekretaris Negara Indonesia (Mensegneg) Prof. Dr. Pratikno, M.Soc, Sc dalam sambutannya mengatakan sejatinya rakyat itu pemikirannya tidak ada batas antar provinsi.

"Justru pemerintah yang pemikirannya ada batas. Jadi rakyat itu merasa tidak ada batas. Jadi oleh karena itu inisiatif yang menjembatani antar kabupaten, antar provinsi merupakan inisiatif yang luar biasa, yang harus kita dukung penuh, " kata Mensesneg yang asli putra Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo Kabupaten Bojonogero.

Ia juga menyebut, bahwa Menteri PUPR mempunyai sejarah panjang dengan Kecamatan Ngraho dan pernah tinggal di Ngraho yang sekarang punya program untuk membantu meningkatkan konektivitas dan pemabangunan kawasan di sejumlah wilayah.

Menanggapi yang disampaikan oleh Mensesneg, kemdian Menteri PUPR Ir. Mochamad Basoeki Hadimoeljono, M.Sc mengatakan terkait dengan konektivitas pihaknya merasa bahwa perkembangan wilayah tidak mungkin terjadi kalau tanpa konektivitas seperti yang disampaikan oleh Bupati Bojonegoro sebelumnya.

"Saya mengapresiasi pembangunan jembatan Terusan Bojonegoro Blora yang dibangun atas prakarsa dua kabupaten. Saya kira ini hal yang sangat bagus sekali, jadi kami wajib mendukung. Programnya bukan Ibu Bupati (Bojonegoro, red) mendukung Presiden, tetapi Presiden mendukung Ibu. Jadi kami ucapkan terimakasih," ungkap Menteri PUPR.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Perhubungan Ir. Budi Karya Sumadi mengatakan akhir 2021 ini dari Blora dan Bojonegoro bisa ke Jakarta, bisa pergi ke Bali langsung.

"Insaallah akhir tahun 2021 ini dari Blora dan Bojonegoro bisa ke Jakarta, bisa pergi ke Bali langsung," ucapnya.

Sementara itu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan kerjasama ini akan terus dilakukan sehingga bisa membawa amanah dengan baik.

Menandai peresmian jembatan TBB, dilakukan penandatanganan prasasti antara Gubernur Jawa Tengah, Bupati Blora dan Bupati Bojonegoro. 

Kemudian Mensesneg menekan tombol sirine dilanjutkan dengan meninjau lokasi jembatan. Sesekali melambaikan tangan kepada warga masyarakat yang melihat jalannya peresmian dari tepi sungan Bengawan Solo.

"Ini kerjasama yang bagus antar dua kabupaten. Kami memberikan apresiasi kepada Bupati Bojonegoro dan Bupati Blora dalam peningkatan layanan kawasan," kata Mensesneg setelah meninjau lokasi jembatan TBB.

Sebelumnya, Bupati Bojonegoro Dr. Hj. Anna Mu'awanah dalam laporannya antara lain menyampaikan pembangunan jembatan Terusan Bojonegoro - Blora ini menunjukkan kontribusi yang besar atas perhatian pemerintah di bidang infrastrukur untuk meningkatkan sarana kerja sehingga capaian pembangunan dapat diwujudkan sebagaimana diketahui.

"Bahwa ketersediaan sarana fisik merupakan faktor penunjang pengembangan suatu wilayah. Hal ini yang melatarbelakangi bahwa kami optimis terhadap jembatan ini yang dilaksanakan selama enam bulan," ucapnya.

Karena ground breaking 1 Juli 2020 dan diselesaikan 29 Desember 2020. Hal itu, sebut bupati Bojonogero merupakan salah satu MOU membangun kawasan Wironegoro, yakni antara Ngawi Blora dan Bojonegoro yang disaksikan Mensesneg.

"Kami optimis dan segera koordinasi dengan Bapak Bupati Blora, dan sesuatu yang sangat luar biasa," kata Anna Mu'awanah.

Jembatan TBB dibangun dengan panjang 220 meter dengan lebar sembilan meter oleh kontraktor pelaksana PT Dwi Ponggo Seto dari Yogyakarta.

Pembangunan jembatan ini dilakukan menggunakan anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Bojonegoro TA 2020, dengan nilai pagu Rp 97,632 miliar dan APBD 2020 Kabupaten Blora sebesar Rp 8,251 miliar.

Di tempat yang sama, Bupati Blora Djoko Nugroho mengucap syukur bahwa jembatan yang dibangun bersama untuk mewujudkan harapan warga Blora-Bojonegoro di wilayah selatan dan barat telah selesai dilaksanakan.

"Sukur alhamdulillah, pembangunan jembatan telah selesai dilaksanakan, semoga berkah dan bermanfaat untuk semuanya," ujarnya.

Peresmian dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Hadir pada peresmian jembatan TBB, Sekda Blora Komang Gede Irawadi, SE, M.Si, Ketua DPRD Blora HM Dasum, SE, M.MA dan unsur Forkopimda Blora lainnya. Selain itu hadir Kepala DPUPR Blora Ir. Samgautama Karnajaya, MT. 

Pendekatan personal Bupati Blora Arief Rohman pada Bupati Ngawi

Bupati Blora dan Ngawi Bahas Kerjasama Pembangunan Kawasan Perbatasan

Bupati Blora, H. Arief Rohman, S.IP, M.Si langsung tancap gas mematangkan sejumlah rencana kerjasama pembangunan kawasan perbatasan dengan Kabupaten sekitar.

Setelah pertengahan Februari lalu bertemu Bupati Bojonegoro, kini, Minggu sore tadi (28/2/2021), Bupati yang akrab disapa Mas Arief ini menemui Bupati Ngawi, H. Ony Anwar Harsono ST, MH.

Mas Arief ketika dihubungi Sabtu petang, membenarkan bahwa dirinya baru saja bertemu dan berdiskusi dengan Bupati Ngawi.

"Ya, tadi dengan suasana santai, kita duduk bersama berdiskusi sekaligus berkoordinasi sambil menikmati secangkir kopi," ungkap Bupati Arief Rohman.

Salah satunya, kata Bupati, membahas pematangan konsep peningkatan ruas jalan Randublatung - Getas hingga Banjarejo Ngawi dan pembangunan Bendung Gerak Karangnongko.

Menurutnya kedua rencana pembangunan ini butuh koordinasi dengan pimpinan daerah untuk percepatan.

Keduannya, peningkatan ruas Jl Randublatung - Getas - Banjarejo Ngawi dan Bendung Gerak Karangnongko yang akan membendung Bengawan Solo merupakan usulan proyek strategis nasional yang tertuang dalam Perpres No. 79 Tahun 2019.

"Sehingga kita yang ada di daerah harus mendukung sepenuhnya," tambah Arief Rohman.

Pihaknya juga menambahkan bahwa di kawasan Desa Getas, Kecamatan Kradenan yang berbatasan dengan Banjarejo, Kecamatan Pitu (Ngawi) terdapat KHDTK Getas Ngandong seluas ribuan hektar hutan jati yang dikelola oleh Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta.

Yang mana jika aksesnya dibuka, maka kawasan ini bisa menjadi pusat pengembangan Kehutanan untuk percontohan, hutan penelitian, konservasi, hingga perhutanan sosial bersama masyarakat.


Dijelaskannya, di Getas ada Kampus Fakultas Kehutanan UGM. Selama ini aksesnya dari Ngawi juga belum optimal. Sehingga kita perlu kerjasama. Tidak lama lagi juga akan ada pembangunan exit tol di Walikukun Ngawi, sehingga akses Blora menuju tol trans jawa akan lebih dekat melalui Randublatung - Getas - Ngawi.

"Ruas ini juga kita ajukan agar bisa menjadi jalan provinsi agar pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut bisa semakin cepat," jelasnya.

Sedangkan Bendung Gerak Karangnongko yang akan membendung Sungai Bengawan Solo di perbatasan Kradenan (Blora) dan Margomulyo (Bojonegoro) juga akan memberikan manfaat untuk Kabupaten Ngawi.

"Tahun 2021 ini Bendung Gerak Karangnongko akan mulai dibangun Pemerintah Pusat, yang nantinya bermanfaat untuk irigasi pertanian dan pemenuhan air bersih di Bojonegoro, Blora dan Ngawi," terangnya.

Khusus Blora juga bisa untuk daya tarik wisata serta pemenuhan air bersih wilayah Kradenan, Randublatung dan Jati agar saat musim kemarau tidak kesulitan air bersih lagi.

"Kita dorong agar PDAM bisa masuk kesana. Bismillah Sesarengan mbangun Blora," bebernya.

Adapun Bupati Ngawi, Mas Ony Anwar menurut Arief siap untuk mendukung dan menyukseskan pembangunan kedua usulan proyek strategis nasional ini.

"Alhamdulilah, beliau siap mendukung. Kita akan sama sama berjuang untuk membangun kawasan yang lebih baik," tutupnya. 

Perjanjian BKAD Ratubangnegoro di Tempuran Blora

Kerja Sama Empat Bidang RATUBANGNEGORO

Empat Kabupaten perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur yang tergabung dalam Badan Kerjasama RATUBANGNEGORO yakni Kabupaten Blora, Tuban, Rembang dan Bojonegoro menandatangani Perjanjian Kerjasama (PKS).

Bertempat di aula salah satu rumah makan kawasan Waduk Tempuran, Kamis (26/7/2018), penandatanganan PKS berisi tentang kerjasama penanganan empat bidang, yakni Penegakan Perda, Penanggulangan Bencana, Investasi serta Pembangunan Infrastruktur Jalan dan Jembatan ini dilakukan oleh masing-masing Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang membidangi dari 4 Kabupaten.

Yakni Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), dan Kepala Dinas Perijinan, dari masing-masing kabupaten atau yang mewakili.

Penandatanganan disaksikan langsung oleh Wakil Bupati Blora, Asisten 1 Bidang Pemerintahan Kabupaten Blora, Asisten 1 Bidang Pemerintahan Kabupaten Bojonegoro, Asisten 1 Bidang Pemerintahan Kabupaten Tuban, dan Rembang.

"Kami mewakili Bupati Blora berterimakasih dan mengapresiasi atas terlaksananya penandatanganan kerjasama di empat bidang yang telah disepakati bersama tadi. Perjanjian ini sangat penting sebagai pedoman bahkan payung hukum kegiatan Pemkab di empat wilayah Kabupaten yang kepentingannya selalu beririsan dan bersinggungan," ujar Wakil Bupati Blora, H.Arief Rohman M.Si.

Ia menyontohkan bidang pembangunan jembatan dan jalan, bahwa saat ini Kabupaten Blora bersama dengan Kabupaten Bojonegoro sedang mengupayakan pembangunan jembatan penghubung antara Kecamatan Kradenan dan Kecamatan Ngraho.

"Dengan adanya perjanjian kerjasama seperti ini, akan menjadi payung hukum dalam pelaksanaan pembangunan jembatan nanti. Dalam pembangunannya nanti akan patungan anggaran antara Bojonegoro dan Blora. Efeknya nanti akses perekonomian di Blora selatan dan Bojonegoro bagian Barat Daya akan berkembang," lanjut Wakil Bupati.

Begitu juga di bidang Penegakan Perda, Investasi dan Penanggulangan Bencana, mengingat empat kabupaten ini memiliki karakteristik alam yang sama sehingga rawan kekeringan saat kemarau. Jika keempat daerah ini mampu bekerjasama dengan baik maka dampak kekeringan bisa diatasi bersama-sama.

"Kami mengusulkan kedepan kalau bisa ditambah satu kabupaten lagi untuk bergabung di badan kerjasama antar daerah ini, yakni Kabupaten Ngawi. Ngawi yang berbatasan dengan Blora dan Bojonegoro juga berpotensi dijalin kerjasama agar nantinya pembangunan bisa lebih merata," pungkas Wakil Bupati. (HW)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel