Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer adalah seorang penulis asal Kabupaten Blora sekaligus aktivis pergerakan kebudayaan pada masa Orde Lama dan Orde Baru. Beberapa tulisannya menyebut wilayah Cepu dan Blora. Pram atau Pramoedya adalah penulis Indonesia yang keberadaannya diakui dunia internasional, menerima berbagai penghargaan sastra tingkat dunia namun dimakzulkan di negeri sendiri selama hampir setengah masa hidupnya. Oleh Pemerintahan Jenderal Besar Soeharto, Pramoedya Ananta Toer dinobatkan sebagai tahanan politik yang harus dibuang jauh dari pusat kekuasaan. 

8 penghargan Pramoedya Ananta Toer dari dunia sastra adalah sebagai berikut: 

1. Hadiah Sastra dari Balai Pustaka atas novelnya Perburuan (1950) 

2. Hadiah Sastra dari BMKN atas kumpulan cerpennya Cerita dari Blora (1952) 

3. Anugerah Freedom to Write Award (PEN American Centre, Amerika Serikat) (1980) 

4. Anugerah The Fund for Free Expression (New York, Amerika Serikat) (1992) 

5. Anugerah Stichting Wertheim dari negeri Belanda (1995) 

6. Anugerah Ramon Magsaysay dari Filipina (1995) 

7. Penghargaan Unesco Madanjeet Singh Prize oleh Dewan Eksekutif Unesco (1996) 

8. Anugerah Le Chevalier de l'ordre des Arts et des Letters dari Prancis (2000)

Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, Jawa Tengah, tanggal 6 Februari 1925. Nama Toer sendiri diambil dari nama ayahnya. Ayah Pramoedya Ananta Toer adalah seorang guru yang bernama Mas Toer, sahabat dekat Tokoh Pergerakan Nasional Dr Soetomo, mula-mula bertugas di HIS di kota Rembang, kemudian menjadi kepala guru di sekolah swasta di Boedi Oetomo sampai menjadi kepala sekolah tersebut. Ibunya anak seorang penghulu di Rembang. 

Pramoedya Ananta Toer Muda

Pramoedya Ananta Toer menamatkan pendidikan di sekolah rendah (sekolah dasar) Institut Boedi Oetomo di Blora. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan selama 1,5 tahun ke Sekolah Teknik Radio Surabaya (Radio Volkschool Surabaya) di Surabaya (1940-1941). 

Pada tahun 1942 Pramoedya pergi ke Jakarta. Ia bekerja di kantor Berita Jepang Domei sebagai juru ketik. Sambil bekerja, ia mengikuti pendidikan di Taman Siswa (1942-1943) dan mengikuti kursus di Sekolah Stenografi (1944-1945). Selanjutnya, ia kuliah di Sekolah Tinggi Islam Jakarta (1945) mendalami mata kuliah filsafat, sosiologi, dan sejarah. 

Pada usianya ke-20, tahun 1945 Pramoedya Ananta Toer berhenti bekerja dari Kantor Berita Jepang Domei dan pergi menjelajahi Pulau Jawa. Setahun kemudian pada tahun 1946 Pramoedya masuk anggota Resimen 6 Divisi Siliwangi dengan pangkat Letnan Dua Tentara Keamanan Rakyat yang ditempatkan di Cikampek. 

Hampir dua tahun Pramoedya Ananta Toer menjadi tentara. Tahun 1947 ia kembali ke Jakarta. Tanggal 22 Juli 1947 ia ditangkap marinir Belanda karena menyimpan dokumen gerakan bawah tanah menentang Belanda. Kemudian, ia ditahan di penjara pemerintah Belanda di Pulau Edam dan di di Bukit Duri, Jakarta, sampai tahun 1949. 

Pada tahun 1950, saat berusia 25 tahun, Pramoedya Ananta Toer menikah dengan seorang wanita dari Palang Merah Indonesia yang sering datang ke penjara ketika ia di penjara. Meskipun menjadi penulis terkenal dan terhormat sampai luar negeri, tapi faktanya, Pramoedya Ananta Toer hanyalah penulis miskin. Pernikahannya dengan gadis PMI itu harus berakhir sad ending, Pramoedya muda diusir dari rumah hanya dengan membawa mesin ketik. 

Akhirnya Pramoedya Ananta Toer bertemu dan menikah dengan Maimunah Thamrin. Nama yang disebut terakhir ini adalah keponakan dari pemimpin nasionalis, Husni Thamrin. Ia menjadi perempuan yang menemani Pram hingga akhir hayat.

Sebenarnya, pada tahun 1950-1951 Pramoedya Ananta Toer bekerja di Balai Pustaka sebagai redaktur. Pada tahun 1952 mendirikan dan memimpin Literary dan Fitures Agency Duta sampai tahun 1954. Tahun 1953 ia pergi ke Belanda sebagai tamu Sticusa (Yayasan Belanda Kerja Sama Kebudayaan). Pada tahun 1962 ia menjabat redaktur Lentera. Selain itu, ia juga menjadi dosen di Fakultas Sastra, Universitas Res Publica (sekarang Universitas Trisakti), Jakarta. Selain itu juga sebagai dosen Akademi Jurnalistik Dr. Abdul Rivai. 

Pramoedya Ananta Toer Muda

Pramoedya Ananta Toer dan LEKRA

Di saat masih mengalami trauma pasca perceraian, tahun 1956 Pramoedya Ananta Toer diundang ke Peking, Tiongkok, untuk menghadiri peringatan hari kematian Lu Sun. Sampai Cina, Pram jadi baper dan terkagum-kagum akan kemajuan pembangunan Cina di kala itu. Mungkinkah Pram menjadi terobsesi pada kejayaan Cina berikut dengan segala atribut politiknya mulai saat itu?

Pada tahun 1958 Pramoedya Ananta Toer bergabung dan menjadi anggota Pimpinan Pusat Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) yang didirikan para tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI). Oleh pihak luar, Lekra dianggap identik dengan under bow PKI. Keterlibatan Pramoedya Ananta Toer dengan Lekra menjadikannya harus berhadapan dengan seniman yang tidak sealiran, terutama yang menentang PKI, seperti dalam penandatanganan Manifesto Kebudayaan tanggal 17 Agustus 1963.

Manifesto Kebudayaan adalah konsep kebudayaan yang menegaskan bahwa Pancasila sebagai satu-satunya falsafah kebudayaan bangsa Indonesia. Manifesto Kebudayaan diprakarsai oleh H.B Jassin, Trisno Sumardjo, Wiratmo Soekito, Zaini, Bokor Hutasuhut, Goenawan Mohamad, A. Bastari Asnin, Bur Rasuanto, Soe Hok Djin, D.S Moeljanto, Ras Siregar, Hartojo Andangdjaja, Sjahwil, Djufri Tanissan, Binsar Sitompul, Gerson Poyk, Taufiq Ismail, M. Saribi, Poernawan Tjondronegoro, Ekana Siswojo, Nashar dan Boen S. Oemarjati. Dipercaya pula, Manifesto Kebudayaan ini dibuat sebagai bentuk counter atas teror-teror dalam ranah budaya yang dilancarkan oleh orang-orang yang tergabung dalam Lekra. 

Harus diakui pula, pernah ada cerita yang mengatakan, oleh orang-orang Lekra, Manifes atau Manifesto Kebudayaan diplesetkan oleh orang-orang Lekra menjadi Mani Kebo yang artinya sperma kerbau. 

Ketika Pramoedya mendapatkan Ramon Magsaysay Award (1995) diberitakan sebanyak 26 tokoh sastra Indonesia menulis surat 'protes' ke yayasan Ramon Magsaysay. Mereka tidak setuju, Pramoedya yang dituding sebagai "jubir sekaligus algojo Lekra paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang" pada masa Demokrasi Terpimpin, tidak pantas diberikan hadiah dan menuntut pencabutan penghargaan yang dianugerahkan kepada Pramoedya.

Tetapi beberapa hari kemudian, Taufiq Ismail sebagai pemrakarsa, meralat pemberitaan itu. Katanya, bukan menuntut 'pencabutan', tetapi mengingatkan 'siapa Pramoedya itu'. Katanya, banyak orang tidak mengetahui 'reputasi gelap' Pram dulu. Dan pemberian penghargaan Magsaysay dikatakan sebagai suatu kecerobohan. Tetapi di pihak lain, Mochtar Lubis malah mengancam mengembalikan hadiah Magsaysay yang dianugerahkan padanya pada tahun 1958, jika Pram tetap akan dianugerahkan hadiah yang sama.

Lubis juga mengatakan, HB Jassin pun akan mengembalikan hadiah Magsaysay yang pernah diterimanya. Tetapi, ternyata dalam pemberitaan berikutnya, HB Jassin malah mengatakan yang lain sama sekali dari pernyataan Mochtar Lubis.

Dalam berbagai opini-opininya di media, para penandatangan petisi 26 ini merasa sebagai korban dari keadaan pra-1965. Dan mereka menuntut pertanggung jawaban Pram, untuk mengakui dan meminta maaf akan segala peran 'tidak terpuji' pada 'masa paling gelap bagi kreativitas' pada zaman Demokrasi Terpimpin. Pram, kata Mochtar Lubis, memimpin penindasan sesama seniman yang tak sepaham dengannya.

Sementara Pramoedya sendiri menilai segala tulisan dan pidatonya pada masa pra-1965 itu tidak lebih dari 'golongan polemik biasa' yang boleh diikuti siapa saja. Dia menyangkal terlibat dalam pelbagai aksi yang 'kelewat jauh'. Dia juga merasa difitnah, ketika dituduh ikut membakar buku segala. Bahkan dia menyarankan agar perkaranya dibawa ke pengadilan saja jika memang materi cukup. Kalau tidak cukup, bawa ke forum terbuka, katanya, tetapi dengan ketentuan saya boleh menjawab dan membela diri, tambahnya.

Semenjak Orde Baru berkuasa, Pramoedya tidak pernah mendapat kebebasan menyuarakan suaranya sendiri, dan telah beberapa kali dirinya diserang dan dikeroyok secara terbuka di koran.

Tetapi dalam pemaparan pelukis Joko Pekik, yang juga pernah menjadi tahanan di Pulau Buru, ia menyebut Pramoedya sebagai 'juru-tulis'. Pekerjaan juru-tulis yang dimaksud oleh Joko Pekik adalah Pramoedya mendapat 'pekerjaan' dari petugas Pulau Buru sebagai tukang ketiknya mereka. Bahkan menurut Joko Pekik, nasib Pramoedya lebih baik dari umumnya tahanan yang ada, sejak dipindahkan dari Unit III ke Markas Komando atau Mako. Statusnya sebagai tokoh seniman yang oleh media disebar-luaskan secara internasional, menjadikan dia hidup lebih baik dalam penahanan itu. Pramoedya kerap kali menjadi 'bintang' ketika ada tamu dari luar negeri yang berkunjung karena reputasinya di Internasional sangat dihargai.

Disisi lain pada tahun 2013, Tempo mengatakan, Lekra memang sempat lekat dengan PKI, namun lembaga yang menaungi kaum sastrawan dan seniman revolusioner ini tidak pernah menjadi bagian resmi dari partai politik berhaluan kiri tersebut. 

Pada Majalah Tempo (30 September 2013), dikatakan, Ketua Central Comite PKI Dipa Nusantara Aidit pernah berselisih dengan Njoto, wakilnya, mengenai posisi Lekra yang sebelumnya mereka dirikan. Aidit menghendaki Lekra melebur dengan PKI, namun Njoto dengan tegas menyatakan tidak setuju. Njoto beralasan, di dalam Lekra terdapat para seniman yang bukan anggota PKI, termasuk Pramoedya Ananta Toer.

Nyoto berpendapat, jika Lekra tetap dipaksakan menjadi bagian resmi partai, bukan tidak mungkin para seniman non-PKI itu justru bakal hengkang, dan jika itu terjadi, tentu bukan menjadi keuntungan bagi Lekra maupun PKI sendiri.

Selain sebagai politisi, Njoto juga dikenal sebagai sosok yang memiliki pengetahuan tentang kesenian yang luas, dan pengaruhnya di Lekra lebih besar ketimbang Aidit. Berkat Njoto, Lekra tidak pernah menjadi bagian resmi dari PKI. Hanya saja, oleh rezim Orde Baru, Lekra disamaratakan dengan PKI yang harus dibasmi. "Tak satu pun yang berhasil mem-PKI-kan Lekra, kecuali Soeharto. Bahkan, Aidit tidak bisa," kata Putu Oka Sukanta, seniman asal Bali, dikutip dari Tempo.

Pramoedya Ananta Toer jaman ORBA

Pramoedya Ananta Toer dan ORBA

Setelah PKI dibubarkan, Orde Baru berdiri, Pramoedya Ananta Toer ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan. 13 Oktober 1965 - Juli 1969 di tahan di Tangerang dan Salemba, Juli 1969 - 16 Agustus 1969 dibuang ke Pulau Nusakambangan, Agustus 1969 - 12 November 1979 dibuang ke Pulau Buru, 12 November sampai dengan 21 Desember 1979 dipindah ke rumah tahanan Magelang. 

Pram ditahan karena dianggap terlibat aktif dalam upaya PKI untuk mengkudeta Pemerintahan Ir Soekarno atau gerakan 30 September 1965. 

Pramoedya dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan Surat Pembebasan Tidak Bersalah Secara Hukum dan Tidak Terlibat Gerakan 30 September, tetapi masih dikenakan status sebagai Tahanan Rumah di Jakarta hingga 1992, serta Tahanan Kota dan Tahanan Negara hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun. Pramoedya menetap di Jalan Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur.

Selama menjalani masa tahanan dan pembuangan di Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer dilarang menulis buku. Tapi nyatanya Pram lebih cerdik, sehingga dapat menyusun Tetralogi Pulau Buru -  Bumi Manusia. Tetralogi Pulau Buru adalah empat seri novel semi-fiksi sejarah Indonesia yang menceritakan perkembangan nasionalisme Indonesia.

Tokoh utama yang diambil Pramoedya Ananta Toer untuk Novel Bumi Manusia adalah Minke, pemuda dari kalangan bangsawan kecil Jawa. Bercermin pada pengalaman RM Tirto Adhi Soerjo seorang tokoh pergerakkan pada zaman colonial asli Blora yang mendirikan organisasi Sarekat Prijaji dan media resmi sebagai sarana advokasi Medan Prijaji. Medan Prijaji yang diakui oleh Pramoedya sebagai koran nasional pertama. 

Jilid pertama Tetralogi Pulau Buru disampaikan Pramoedya Ananta Toer secara lisan kepada rekan-rekannya di Unit III Wanayasa, Buru. Setelah Pram dipindahkan ke Markas Komando atau Mako Buru,  Pram dipekerjakan untuk membantu urusan surat menyurat administrasi ringan. Dari situlah Pramoedya Ananta Toer dapat mengetik naskah Tetralogi Pulau Buru. Naskah-naskahnya diselundupkan lewat tamu-tamu yang berkunjung ke pulau Buru.

Pemerintah Orde Baru melarang para mantan tahanan politik menyebarkan tulisannya. Namun, setahun setelah Pramoedya Ananta Toer mendapat Surat Pembebasan Tidak Bersalah Secara Hukum dan Tidak Terlibat Gerakan 30 September, bersama Hasjim Rachman dan Joeseoef Ishak yang juga pernah ditahan di Pulau Buru, Pram mendirikan penerbitan Hasta Mitra.

Buku-buku karya Pram pun terbit di bawah naungan Hasta Mitra. Sebagai langkah awal adalah menerbitkan Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa pada 1980 dan 1981. Dua seri awal "Tetralogi Pulau Buru" sangat laris, hanya dalam waktu 6 bulan sudah dicetak ulang tiga kali. 

Rezim Orde Baru meradang, merasa kecolongan atas munculnya dua karya Pram tersebut. Kejaksaan Agung RI pun mengeluarkan larangan peredaran Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Bahkan, Maxwell Lane, Staf Kedutaan Besar Australia di Jakarta yang menerjemahkan Bumi Manusia ke dalam bahasa Inggris, dideportasi.

Begitu pula percetakan Ampat Lima yang mencetak karya Pramoedya Ananta Toer Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, seperti dikutip dari Portal Sastra, akhirnya tutup karena tekanan dari Kejaksaan Agung dan aparat. Kejaksaan Agung juga menarik buku-buku Pram yang sudah terlanjur beredar. Namun, hanya 972 eksemplar yang bisa diperoleh, jauh lebih sedikit dibanding total buku yang telah beredar yaitu sebanyak 20 ribu eksemplar.

Pramoedya Ananta Toer Masa Tua

Pada masa akhir 1980'an menjelang 1990'an Pramoedya Ananta Toer menyelesaikan penulisan Gadis Pantai, novel semi-fiksi lainnya berdasarkan pengalaman neneknya sendiri. Ia juga menulis Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995), otobiografi berdasarkan tulisan yang ditulisnya untuk putrinya namun tak diizinkan untuk dikirimkan, dan Arus Balik (1995). Edisi lengkap Nyanyi Sunyi Seorang Bisu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Willem Samuels, diterbitkan di Indonesia oleh Hasta Mitra bekerja sama dengan Yayasan Lontar pada 1999 dengan judul The Mute's Soliloquy: A Memoir

Pramoedya Ananta Toer telah menulis banyak kolom dan artikel pendek yang mengkritik pemerintahan Indonesia terkini. Ia menulis buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, dokumentasi yang ditulis dalam gaya menyedihkan para wanita Jawa yang dipaksa menjadi wanita penghibur selama masa pendudukan Jepang. Semuanya dibawa ke Pulau Buru di mana mereka mengalami kekerasan seksual, berakhir tinggal di sana dan tidak kembali ke Jawa. Pram membuat perkenalannya saat ia sendiri merupakan tahanan politik di Pulau Buru selama masa 1970-an.

Banyak dari tulisan Pramoedya Ananta Toer menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa. Banyak dari tulisannya juga semi-otobiografi, di mana ia menceritakan pengalamannya sendiri. Ia terus aktif sebagai penulis dan kolumnis. Perlu dijelaskan kembali, Pram memperoleh Ramon Magsaysay Award untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif 1995. Ia juga telah dipertimbangkan untuk Hadiah Nobel Sastra. Pram memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada 2004 Norwegian Authors' Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia. Ia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memperoleh penghargaan dari Universitas Michigan.

Sampai akhir hayatnya Pramoedya Ananta Toer aktif menulis, walaupun kesehatannya telah menurun akibat usianya yang lanjut dan kegemarannya merokok. Pada 12 Januari 2006, ia dikabarkan telah dua minggu terbaring sakit di rumahnya di Bojong Gede, Bogor, dan dirawat di rumah sakit. Menurut laporan, Pramoedya menderita diabetes, sesak napas, dan jantungnya melemah.

Pada 6 Februari 2006 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, diadakan pameran khusus tentang sampul buku dari karya Pramoedya. Pameran ini sekaligus hadiah ulang tahun ke-81 untuk Pramoedya Ananta Toer. Pameran bertajuk Pram, Buku, dan Angkatan Muda menghadirkan sampul-sampul buku yang pernah diterbitkan di mancanegara. Ada sekitar 200 buku yang pernah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia.

Selain menulis Novel, Pram pernah ikut membuat buku Kronik Indonesia sebanyak empat jilid yang diterbitkan Kompas Gramedia. Di usia tuanya, Pram bahkan berencana menggarap buku ensklopedia soal Indonesia. Sejak lama Pram sudah banyak mengkliping koran sebagai bahan. Rencana itu tidak terlaksana karena Pram keburu meninggal pada 30 April 2006.

Pramoedya Ananta Toer Berpulang

Pada 27 April 2006, Pram sempat tak sadar diri. Pihak keluarga akhirnya memutuskan membawa dia ke RS Saint Carolus hari itu juga. Pramoedya Ananta Toer didiagnosis menderita radang paru-paru, penyakit yang selama ini tidak pernah menjangkitinya, ditambah komplikasi ginjal, jantung, dan diabetes.

Pram hanya bertahan tiga hari di rumah sakit. Setelah sadar, dia kembali meminta pulang. Meski permintaan itu tidak direstui dokter, Pram bersikeras ingin pulang. Sabtu 29 April, sekitar pukul 19.00, begitu sampai di rumahnya, kondisinya jauh lebih baik. Meski masih kritis, Pram sudah bisa memiringkan badannya dan menggerak-gerakkan tangannya.

Kondisinya sempat memburuk lagi pada pukul 20.00. Pramoedya Ananta Toer masih dapat tersenyum dan mengepalkan tangan ketika sastrawan Eka Budianta menjenguknya. Pram juga tertawa saat dibisiki para penggemar yang menjenguknya bahwa Soeharto masih hidup. Kondisi Pram memang sempat membaik, lalu kritis lagi. Pram kemudian sempat mencopot selang infus dan menyatakan bahwa dirinya sudah sembuh. Dia lantas meminta disuapi havermut dan meminta rokok. Tapi, tentu saja permintaan tersebut tidak diluluskan keluarga. Mereka hanya menempelkan batang rokok di mulut Pram tanpa menyulutnya. Kondisi tersebut bertahan hingga pukul 22.00.

Setelah itu, beberapa kali dia kembali mengalami masa kritis. Pihak keluarga pun memutuskan menggelar tahlilan untuk mendoakan Pram. Pasang surut kondisi Pramoedya Ananta Toer terus berlangsung hingga pukul 02.00. Saat itu, dia menyatakan agar Tuhan segera menjemputnya. "Dorong saja saya," ujarnya. Namun, teman-teman dan kerabat yang menjaga Pram tak lelah memberi semangat hidup. Rumah Pram yang asri tidak hanya dipenuhi anak, cucu, dan cicitnya. Tapi, teman-teman hingga para penggemarnya ikut menunggui Pram.

Kabar meninggalnya Pramoedya Ananta Toer sempat tersiar sejak pukul 03.00. Tetangga-tetangga sudah menerima kabar duka tersebut. Namun, pukul 05.00, mereka kembali mendengar bahwa Pram masih hidup. Terakhir, ketika ajal menjemput, Pram sempat berkata, "Akhiri saja saya. Bakar saya sekarang," katanya.

Pada 30 April 2006 pukul 08.55 Pramoedya Ananta Toer wafat dalam usia 81 tahun.

Ratusan pelayat tampak memenuhi rumah dan pekarangan rumah Pramoedya Ananta Toer di Jalan Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Pelayat yang hadir antara lain Sitor Situmorang, Erry Riyana Hardjapamekas, Nurul Arifin dan suami, Usman Hamid, Putu Wijaya, Goenawan Mohamad, Gus Solah, Ratna Sarumpaet, Budiman Sudjatmiko, serta puluhan aktivis, sastrawan, dan cendekiawan. Hadir juga Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Terlihat sejumlah karangan bunga tanda duka, antara lain dari KontraS, Wapres Jusuf Kalla, artis Happy Salma, pengurus DPD PDI Perjuangan, Dewan Kesenian Jakarta, dan lain-lain. Teman-teman Pram yang pernah ditahan di Pulau Buru juga hadir melayat. Temasuk para anak muda fans Pram.

Jenazah Pramoedya Ananta Toer dimandikan pukul 12.30 WIB, lalu disholatkan. Setelah itu, dibawa keluar rumah untuk dimasukkan ke ambulans yang membawa jasad Pram ke TPU Karet Bivak. Terdengar lagu Internationale dan Darah Juang dinyanyikan di antara pelayat.

Karya Pramoedya Ananta Toer

Karya Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer yang aktif menulis sejak tahun 1940-an telah menghasilkan banyak karya sastra, yaitu cerpen, novel, esai, dan karya terjemahan. Karya Pramoedya banyak yang sudah diterjemahkan dalam bahasa asing, yaitu Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Rusia, dan Jepang. 

A. Novel Pramoedya Ananta Toer

1. Sepuluh Kepala Nica (1946) 

2. Kranji Bekasi (1947) 

3. Perburuan (1950) 

4. Keluarga Gerilya (1950) 

5. Mereka yang Dilumpuhkan (1951) 

6. Bukan Pasar Malam (1951) 

7. Di Tepi Kali Bekasi (1951) 

8. Gulat di Jakarta (1953) 

9. Midah, Si Manis Bergigi Emas (1954) 

10. Korupsi (1954) 

11. Calon Arang (1957) 

12. Suatu Peristiwa di Banten Selatan (1958) 

13. Bumi Manusia (1980) 

14. Anak Semua Bangsa (1980) 

15. Jejak Langkah (1985) 

16. Gadis Pantai (1987) 

17. Hikayat Siti Mariah (1987) 

18. Rumah Kaca (1987) 

19. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I (1995) 

20. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II (1996) 

21. Arus Balik (1995) 

22. Arok Dedes (1999) 

23. Larasati (2000) 

B. Kumpulan Cerita Pendek Pramoedya Ananta Toer

1. Subuh (1950) 

2. Percikan Revolusi (1950) 

3. Cerita dari Blora (1952) 

4. Cerita dari Jakarta (1957) 

C. Novel Terjemahan Pramoedya Ananta Toer

1. Tikus dan Manusia karya John Steinbeck (1950) 

2. Kembali kepada Cinta Kasihmu karya Leo Tolstoy (1950) 

3. Perjalanan Ziarah yang Aneh karya Leo Tolstoy (1956) 

4. Kisah Seoraang Prajurit Soviet karya Mikhail Sholokov (1956) 

5. Ibu karya Maxim Gorky (1956) 

6. Asmara dari Rusia karya Alexander Kuprin (1959) 

7. Manusia Sejati karya Boris Posternak (1959) 


(Heri ireng - dari berbagai sumber)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel