New Normal Jawa Tengah Dimulai Dari Sektor Tanam

New-Normal-Dimulai-Dari-Sektor-Tanam-Gubernur-Jawa-Tengah-Ganjar-Pranowo


Kedatangan Gubernur Jawa Tengah pada inisiasi Desa Wisata di Karanganyar ditanggapi positif oleh sebagian tokoh masyarakat. Kris Widianto Pembina Petani Muda Blora menilai langkah Gubernur Ganjar sudah tepat, pekerjaan di tempat terbuka dan terpencar sangat tepat untuk memulai gerakan New Normal di Jawa Tengah.

Humas Jateng mengabarkan jika Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo belum lama ini memimpin langsung penggarapan Desa Wisata di Dukuh Bulu Desa Salam Kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar. Proyek Desa Wisata itu memanfaatkan 3 hektar lahan kritis dengan awalan berupa penanaman sekitar seribu pohon oleh masyarakat bersama Gubernur Ganjar.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo datang ke lokasi naik sepeda bersama Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Tengah Atikoh Ganjar. Keduanya mendukung setiap upaya pengembangan desa wisata berbasis lingkungan alam, hal ini terlihat dari jejak kegiatan Gubernur Ganjar sebelumnya. Sudah sejuta pohon lebih yang ditanam atas inisiasi Ganjar Pranowo selama menjadi Gubenur Jawa Tengah. 

Kepala Desa Salam Karangpandan, Sutarji menerangkan, lahan kritis kurang produktif sebelumnya pernah ditanami dengan pohon sengon dan rumput pakan ternak. Agaknya puluhan pohon sengon tersebut tidak terawat sehingga harus ditebang dan diganti dengan pohon jenis lain. Pohon yang akan ditanam adalah jenis pohon buah-buahan dan tanaman keras lain yang mendukung pengembangan desa wisata berbasis lingkungan alam. 

"Pohon yang akan ditanam nanti sekitar seribuan, disesuaikan dengan kondisi. Bisa pohon buah-buahan atau tanaman keras lain yang ditata sesuai dengan perencanaan pengembangan desa wisata. Di sekitar lahan ini juga terdapat banyak mata air dan sumber air panas," jelasnya. 

Penataan Landscape Libatkan Ahli

Setelah menanam pohon jambu air, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memberikan saran pada pihak Desa untuk bekerjasama dengan akademisi atau universitas. Gubernur Ganjar menyarankan agar bekerjasama dengan Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) untuk mendapatkan masukan terkait penataan landscape di lokasi Desa Wisata tersebut.

"Pak Kades, nanti ajak saja, umpama dari UNS, minta tolong ke Rektor agar dikirim ahli atau insinyur yang paham tentang penataan lanskap. Sehingga tebing ini akan menjadi pemandangan yang 'view'-nya bagus dan lingkungannya terjaga," saran Gubernur Jateng.

"Sekarang ini," lanjut Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, "Orang-orang mencari tempat yang alami. Piknik masa depan itu yang dicari seperti itu. Sudah betul sekarang ditanami."

Gubernur Jawa Tengah juga mengatakan bahwa salah satu manfaat penanaman pohon adalah untuk menjaga kelestarian sumber air. Sumber air merupakan kebutuhan masa depan yang harus mulai dijaga dan dilestarikan sejak dini. 

"Ditanami buah itu juga bagis. Semakin banyak pohon yang ditanam maka nanti sumber air terjaga. Kebutuhan air terjaga. Debit air juga banyak. Jadi kebutuhan masa depan mulai kita rencanakan sejak hari ini," jelas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. 

Kris-Widianto-bersama-Bupati-Blora-Arief-Rohman
Foto : Pembina Petani Muda Blora Kris Widianto bersama Bupati Arief Rohman pada satu acara pemberdayaan bagi masyarakat Desa Kabupaten Blora


Langkah Tepat Jateng New Normal

Kris Widianto Pembina Petani Muda Blora mengapresiasi langkah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Kris secara virtual menguraikan, "Pak Ganjar memang 'wasis' telah belajar pada alam. Dukungannya pada gerakan sejuta pohon terutama tanaman keras di lahan kritis secara tidak langsung memberitahukan kepada para pemimpin di bawahnya untuk memulai kegiatan new normal dari sektor tanam terlebih dahulu. Tanam apa pun. Entah itu tanaman pertanian, perkebunan, tanaman pengikat air, atau tanaman pendukung wisata yang menawarkan keindahan alam. Yang penting tanam. Sederhana saja, semua butuh air dan makanan."

"Jangan remehkan sektor tanam," lanjut alumnus SMANSA Cepu ini, "Banyak orang bingung untuk memulai kegiatan produktif bagi dirinya sendiri. Kadang jenuh dengan rutinitas dan ingin merasa lebih berarti. Apalagi pada saat pandemi ini. Pembatasan Kegiatan Masyarakat jangan diartikan sebagai pembatasan kreatifitas, pembatasan produktifitas. Justru moment di rumah saja harus kita manfaatkan untuk menanam sesuatu. Lahan terbatas dapat disiasati menggunakan pot, polybag atau kalau mau repot sedikit pakai pola hidroponik." 

Kris-Widianto-bersama-Anak-anak-Pendidikan-Usia-Dini-di-Kebun-Buah-Naga
Foto : Kris Widianto memberikan cerita kepada anak-anak Pendidikan Usia Dini di lokasi Kebun Buah Naga Desa Gadu Kecamatan Sambong Kabupaten Blora miliknya.


"Rata-rata orang ingin hasil instan. Menanam pohon tidak bisa diharapkan hasil instan. Perlu waktu dan kesabaran untuk merawat agar tumbuh maksimal. Berbunga dan berbuah seperti yang kita harapkan. Kalau ingin instan, ya bikin kecambah atau jamur saja. Kecambah dan jamur juga bernilai bergizi tinggi," tambah pemilik kebun wisata buah naga ini. 

"Alam telah mengajarkan yang terbaik bagi kita. Setiap permasalahan yang timbul pasti disertai dengan solusi penyiasatannya. Kolerasikan saja, jarak tanam mengingatkan kita pada pentingnya menjaga jarak untuk mencegah penularan covid 19. Di dunia tanam-menanam, para pekerja memang bekerjasama menggarap sebidang lahan, namun pada prakteknya dituntut untuk mengerjakan pekerjaan yang sama secara terpisah pada jarak tertentu. Hebatnya, mereka tetap berpegang pada sebuah goal yang sama. Yaitu, kesuksesan pada masa panen," lanjut Pembina Petani Muda Blora ini.

"Pandemi Corona tidak bisa ditolak, itu siklus ratusan tahun sekali. Alami. Tapi kita tetap harus produktif. Menanam satu pohon kelihatannya hal sepele, tapi itu sesuatu banget, apalagi bila disertai kesadaran massal. Konsep kota hijau dengan daerah resapan dan pengikat air sudah perlu disuarakan lagi. Terutama oleh para petinggi negeri. Langkah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo perlu kita apresiasi setinggi-tingginya. Beliau tidak hanya menyuarakan rehabilitasi lingkungan. Faktanya, beliau hadir secara fisik turut memegang 'pacul'. Dan itu sangat menginsiparasi serta memotivasi kita untuk melakukan hal sama," apresiasinya. 

Pendapat Ahli Asal Cepu

Redhahari, seorang praktisi sekaligus ahli kehutanan dan perkebunan alumnus SMANSA Cepu Jawa Tengah sejak meninggalkan Cepu 1992 menggeluti bidang Kehutanan dan Perkebunan. Sempat menjadi dosen, konsultan luar negeri dan direktur perusahaan perkebunan. 

Redhahari menjelaskan, bahwa dalam mengembangkan konsep desa wisata berbasis alam harus melihat kepada pasar dan trend. "Saat ini yang sedang laku di jual apa? Dengan melihat pada keunikan daerah masing masing, misalnya bentangan sawah, air terjun, sendang dan lain-lain yang berkaitan dengan landskap satu daerah," ujarnya lewat virtual. "Apa yang laku dijual saat ini menjadi cash cow untuk pelaksanan pembangunan jangka panjang menuju desa wisata berbasis alam yang mandiri,"  imbuhnya. 

Redhahari-salah satu-ahli-praktisi-pertanian-perkebunan-asal Cepu-pada-satu-acara-Festival-Teknologi-Perkebunan
Foto : Redhahari (paling kanan) salah satu ahli sekaligus praktisi pertanian perkebunan asal Cepu pada satu acara Festival Teknologi Perkebunan


Anak PERHUTANI ini memberikan sebuah konsep pencapaian tujuan, "Untuk mencapai tujuan  tersebut perhatikan dia menetapkan pilar 3K yaitu Kelokalan, Konservasi dan Ketahanan. Kelokalan adalah mengidentifikasi jenis tanaman setempat yang menjadi ke-khas-an dari desa itu. Konservasi adalah melihat apakah jenis tanaman tersebut memiliki fungsi pemeliharaan dan perawatan lingkungan, misalnya apakah satu jenis tanaman memiliki kemampuan sebagai penahan air dan pemelihara tata air, seperti beringin,  aren misalnya." 

Redha juga menjelaskan lebih jauh, "Ada jenis jenis tanaman yang kurang tepat untuk konservasi, yaitu yang rakus air seperti Kelapa Sawit contohnya. Sementara untuk laham kritis harus di lihat dulu, apa yang umumnya tumbuh disana. Kalau hanya rumput liar saja yang tumbuh artinya tanahnya sudah rusak perlu pengayaan unsur hara dan vitamin tanah. Mengatasinya tanah harus di bera dan ditanam kacang kacangan dulu supaya mengikat unsur N dalam tanah."

Sedangkan untuk sisi ketahanan difokuskan pada 2 pilar. Yaitu ketahanan pangan dan ketahanan energi/ bahan bakar. Jenis tanaman lokal apa yang mendukung untuk pangan dan mendukung untuk kesinambungan enargi atau bahan bakar. Pangan saat ini dunia luar mulai menengok komoditi lain seperti porang misalnya dan untuk bidang energi mulai digaungkan energi terbarukan yaitu non-fossil seperti minyak dan Batubara. 

Keseharian-Redhahari-mengurusi-perkebunan-kelapa-sawit
Foto : Keseharian Redhahari (baju putih) mengurusi kebun kelapa sawit, selain seorang intelektual pada kehidupan sehari-hari, Redha adalah seorang praktisi.


Ditekankan lagi oleh Redhahari, "Pembentukan desa wisata berbasis alam ini hendaknya secara jangka panjang sekaligus mengantisipasi kebutuhan akan pangan dan energi.  Apabila dikelola dengan baik," dia meyakini, "Dalam 5 tahun satu desa sudah memiliki basis menjadi mandiri tentunya dengan dukungan penuh dari pemerintah."

Ketika ditanya kira kira di Jawa Tengah apa yang secara umum bisa dikembangkan untuk mencapai 3K tersebut. Sambil tersenyum dia menjawab, "K3 juga!" Apa K3 itu? "Kembangkan Kemlandingan, Kelor dan Kaliandra di setiap Desa! Kemlandingan seperti lamtoro gung. Kemlandingan ini kan tanaman lokal, tinggal digalakkan saja!," ujarnya penuh semangat. 

"Fungsi konservasi jenis Kemlanding sangat bagus untuk pemeliharaan air sama perbaikan tanah. Jadi untuk tanaman kemlanding dan satu lagi tanaman yang akan tak sebutkan nanti semua memenuhi issue kelokalan dan konservasi. K yang ke dua adalah Kelor. Morinaga. Ini adalah tanaman super!. Disamping sebagai tanaman konservasi dia memiliki fungsi ketahanan pangan dan nutrisi," jelas mantan dosen ini. 

"K yang ke tiga adalah Kaliandra. Kaliandara itu juga tanaman konservasi sekaligus untuk Ketahanan Energi! Bagus dipakai bikin arang kayu, pellet biomassa. Buat ketahanan pakan ternak juga bagus," ungkap Redhahari. 

Sebagai closing statement, Redhahari menekankan lagi pada bagaimana caranya agar hanya dalam waktu 5 tahun sebuah desa sudah memiliki basis sebagai Desa Mandiri. "Bagaimana caranya? Integrasi sistem antar pilar harus jalan. Khususnya internal 3K tersebut.. Goal akhir dari integrasi sistemnya adalah uang!. Jadi, 3K itu harus menjadi uang! Ujungnya untuk menopang terbentuknya cash flow lain selain pemanfaatan lanskap desa wisata. Nanti kapan kapan saya jelaskan lagi lebih detil. Karena antara desa dengan desa lainnya kan beda," ucapnya sambil tersenyum renyah. 

"O, ya satu lagi ya...," urungnya.  "Kalau kaitannya dengan COVID-19," lanjutnya lagi masih dengan senyuman, "Banyak-banyak makan sayur kelor, daun kelor. Bothok kemlanding. Bangun pagi buka semua jendela rumah sampai jam 10 pagi. Banyak-banyak aktivitas di luar ruangan. Tetap jaga jarak dan jangan lupa pakai? Masker!," pungkasnya. (heri ireng)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel