Kabupaten Cepu - Pondasi Sejarah Cepu Sebenarnya

kabupaten-cepu-pondasi-sejarah-cepu-sebenarnya

Banyak orang mengira Cepu adalah sebuah Kabupaten di perbatasan Jawa Timur - Jawa Tengah Indonesia. Jawabnya, "Ya! Cepu pernah menjadi Kabupaten di masa Hindia Belanda pra Pangeran Mangkubumi. Tapi tidak hanya itu, di wilayah Cepu pernah dua kali menjadi Ibu Kota Negara. Pertama, ibu kota Kerajaan Lowram  di Desa Ngloram Kecamatan Cepu pada masa Mataram Hindu dengan Raja (haji) Aji Wurawari saudara beda ibu dari Dharmawangsa Teguh.  Kedua, ibu kota Kerajaan Jipang pada masa surutnya Kasultanan Demak dengan Raja Penangsang."

Pangeran Haryo Penangsang sempat memindahkan pusat kekuasaan Demak dari Bintoro Kabupaten Demak Provinsi Jawa Tengah ke Desa Jipang Kecamatan Cepu Kabupaten Blora Jawa Tengah. Hanya saja, hingga gugurnya Pangeran Haryo Penangsang belum sempat mendapatkan gelar Sultan dan di-bai'at secara resmi oleh Sunan Giri penguasa Giri Kedathon.  

Dan ternyata dua kali pula Cepu menjadi Kadipaten dengan Bupati para anak pertama seorang Raja. Kadipaten pertama ada di Jipang Cepu pada masa Kasultanan Demak dengan Adipati Pangeran Haryo Kikin Sekar Seda Lepen putera tertua Raden Patah yang juga ayahnya Pangeran Haryo Penangsang. Kadipaten kedua ada di Panolan Cepu pada masa Kasultanan Pajang dengan Adipati Pangeran Haryo Benowo putera tertua Sultan Hadiwijaya. 

Harap dicatat, tulisan pada beberapa postingan blog Cepuraya ini hanya untuk hiburan saja. Tidak dapat dikatakan sebagai sebuah artikel, karena hanya mengandalkan cara logika berfikir yang sehat, tanpa didasari dengan referensi-referensi akademik yang memadai. Boleh dikatakan bahwa postingan ini sebuah spekulasi sejarah yang tidak mendasar sama sekali. Namun, bagi penulis spekulasi seperti ini menjadi penting ketika melihat para remaja semakin disibukkan dengan gadget dan dunianya yang makin maya saja. 


Cepu sebagai Ibu Kota Negara Mataram Kuno atau Mataram Hindu

Mahapralaya Mataram Kuno Hindu adalah sebuah peristiwa penghancuran Ibu Kota Kerajaan Mataram Kuno oleh Kerajaan Sriwijaya melalui konspirasi berupa kudeta Haji Wurawari dari Kadipaten Lowram - Ngloram Cepu Blora yang mengakibatkan perpindahan Ibu Kota Kerajaan Mataram Kuno Hindu dari Wwatan Mas - Madiun ke Ngloram Cepu dengan raja Wardhanawangsa Wurawari. 

Merujuk dari prasasti Pucangan, peristiwa Mahapralaya Mataram Kuno Hindu masih menjadi polemik. Polemik Mahapralaya ini terjadi karena terdapatnya perbedaan cara baca prasasti. Perbedaan bacaan itu muncul karena kondisi prasasti Pucangan yang sudah lapuk hingga tak begitu jelas lagi huruf-hurufnya. Golongan pertama membaca angka tahun berupa kalimat Suryasengkala yaitu Locana agni vadane atau tahun 1010 Masehi, sedangkan golongan kedua membacanya Sasalancana abdi vadane atau tahun 1016.

Pemindahan ibu kota Mataram Kuno Hindu dari Wwatan Mas Madiun ke Lowram Cepu Blora menjadi tidak pasti tahunnya. Bisa jadi 1010 Masehi, dan bisa jadi 1016 Masehi. Namun demikian tak menghilangkan makna telah terjadinya pemindahan Kekuasaan Mataram Hindu dari Wwatan Mas Madiun ke Lowram Cepu Blora. Dengan demikian sah, ketika disebutkan bahwa Cepu pernah menjadi Ibu Kota Negara Mataram Hindu. Mataram Kuno sendiri pada masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh, sekitar Tahun 992 M pernah menduduki Kerajaan Sriwijaya selama 5 tahun hingga 997 Masehi. 

Dengan demikian, Lowram Cepu pernah menjadi Ibu Kota Negara Kerajaan, yaitu Kerajaan Mataram Kuno atau Mataram Hindu. Atau bisa dikatakan, kerajaan di Cepu adalah Kerajaan Mataram Kuno atau Mataram Hindu yang beribukota di Lowram atau Ngloram Cepu dengan raja Haji Wurawari yang bergelar Wardhanawangsa Wurawari. 

Cepu-sebagai-Ibu-Kota-Negara-Demak

Cepu sebagai Ibu Kota Negara Demak

Diakui atau tidak, Pangeran Haryo Penangsang sebagai pewaris sah kekuasaan Kasultanan Demak, pernah merebutnya lagi dari Raden Mukmin atau Susuhunan Prawoto. Memindahkan ibu kota kasultanan dari Bukit Prawoto Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati, Jawa Tengah ke Jipang Cepu Jawa Tengah. 

Secara singkat, dapat dijelaskan bahwa Kasultanan Demak Pertama didirikan oleh Raden Patah atau Raden Fatah atau Jin Bun Tahun 1475 di Bintoro. Bisa jadi Raden Fatah pada mulanya bermukim di Desa Jimbung Kecamatan Kedungtuban Kabupaten Blora, di tepi bengawan Solo. Setelah menjadi Sultan tahun 1500 Raden Patah atau Panembahan Jinbun bergelar Sultan Syah Alam Akbar Al-Fatah. 

Setelah Sultan Syah Alam Akbar Al-Fatah wafat tahun 1518, pemerintahan Demak Bintoro dijabat oleh MENANTU-nya yang bernama Raden Abdul Qodir atau Adipati Unus atau Pati Unus atau Raden Yat Sun dan bergelar Sultan Syah Alam Akbar At-Tsaniy atau Sultan Sani. Tahun 1521 Sultan Sani gugur ketika menyerang Portugis di Malaka. Karena Sultan Sani gugur di luar negeri dan melewati laut utara, maka Sultan Sani mendapat gelar lokal dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor. 

Setelah Sultan Syah Alam Akbar At-Tsaniy atau Dipati Unus gugur tahun 1521, tahun itu pula pemerintahan Demak Bintoro dijabat oleh Raden Trenggana adik Dipati Unus. Raden Trenggana bergelar Sultan Ahmad Abdullah Arifin. Sultan Ahmad Abdullah Arifin menjabat seumur hidup hingga terbunuh oleh anak di Panarukan tahun 1546. Selama pemerintahan Raden Patah, Dipati Unus dan Raden Trenggana, Kasultanan Demak masih beribukota di Bintoro. 

Setelah terbunuhnya Sultan Trenggana, maka putra sulung Sultan Trenggana yang bernama Raden Mukmin menobatkan dirinya sebagai raja Demak Bintoro tahun 1946 itu juga. Raden Mukmin belum sempat menerima gelar Sultan dari Giri Kedathon. Pengangkatan diri Raden Mukmin menjadi Raja Demak membuat cucu Raden Patah dan saat itu telah menjadi Senopati Demak dan dijuluki Pangeran Haryo Penangsang  murka. 

Tahun itu pula Pangeran Haryo Penangsang sebagai penguasa pasukan, memprotes pengangkatan Raden Mukmin yang telah membunuh Raden Haryo Kikin Putera tertua Raden Patah yang tak lain ayah Pangeran Haryo Penangsang. Protes keras itu tidak didengarkan, akhirnya Pangeran Haryo Penangsang memilih untuk membumi hanguskan Kasultanan Demak Bintoro peninggalan kakeknya. Hanya meninggalkan bangunan Masjid serta Kelenteng saja. Raden Mukmin bersama orang dekatnya, lari ke bukit Prawoto (sekarang Desa Prawoto Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati Jawa Tengah).

Pada saat yang sama, tahun 1546, Pangeran Haryo Penangsang yang telah merasa dapat merebut kekuasaan Kasultanan Demak Bintoro tanpa pembunuhan, kemudian memindahkan ibu kota Kasultanan Demak ke Jipang (sekarang Desa Jipang Kecamatan Cepu Kabupaten Blora Jawa Tengah). Pangeran Haryo Penangsang mengangkat dirinya menjadi Raja Demak Jipang dengan gelar Susuhunan Penangsang. Mengajukan permohonan pengangkatan Sultan ke Giri Kedathon dengan Gelar Sultan Syah Alam Akbar Al-Tholith. 

Begitu mendengar kabar bahwa Raden Mukmin juga menyatakan bahwa masih menjadi raja Demak dengan gelar Susuhunan Prawoto dan memindahkan ibu kota Demak di Prawoto, maka Pangeran Haryo Penangsang memerintahkan pasukannya untuk menumpas kelompok Raden Mukmin. 

Agar tidak terjadi perang saudara dan karena adanya pemahaman Susuhunan Penangsang terhadap hukum kisas, maka Susuhunan Penangsang cukup memerintahkan seorang soreng bernama Rangkud dari Bandar untuk mengkisas Raden Mukmin. Raden Mukmin mengakui bahwa telah memerintahkan Ki Surayata membunuh Raden Kikin atau Pangeran Sekar putera Raden Patah sepulang sholat Jumat. Sebagai muslim Jawa yang taat, Raden Mukminpun bersedia untuk dikisas Susuhunan Penangsang melalui tangan Soreng Rangkud. 

Cepu-sebagai-Ibu-Kota-Provinsi

Cepu sebagai Ibu Kota Provinsi

Bila Mataram Hindu atau Mataram Kuno dianggap sebagai sebuah Negara karena daerah kekuasaannya yang luas, sampai ke Sumatera, sebagian Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara, maka sebelum Aji Wurawari memindahkan ibu kota kerajaan dari Wwotan Mas ke Lowram Cepu, Lowram Cepu telah menjadi kota provinsi pada saat itu. Dan harus diakui bahwa Wwotan Mas Madiun pernah menjadi ibu kota Negara pada masa Mataram Hindu. 

Logikanya, Lowram adalah sebuah ibu kota Kerajaan Bawahan yang diperintah oleh seorang Aji. Aji sendiri adalah gelar bagi raja bawahan. Tidak berbeda dengan Aji Saka. Aji Saka adalah Raja Bawahan dari Kerajaan Medangkungan.  Kerajaan tertua di Jawa adalah Kerajaan Medangkungan yang terletak di sekitar Blora. 

Kembali ke Aji Wurawari. Aji Wurawari dan Teguh Dharmawangsa mempunyai bapak yang sama yaitu raja Mataram Hindu yang bergelar Makutha Wangsa Wardhana atau yang lebih sering disebut dengan Wangsa Wardhana saja. Tapi dari ibu yang berbeda. Setelah menginjak dewasa, sekitar umur 18 tahun, Dharmawangsa Teguh dinobatkan sebagai Raja Mataram Hindu. Sedangkan Aji Wurawari dinobatkan menjadi Raja Bawahan setingkat gubernur di Lowram Cepu. Dengan sendirinya, Ngloram Cepu pernah menjadi Ibu Kota Provinsi pada masa Aji Wurawari dan di masa-masa sebelumnya. Sebelum tahun 1016. 

Apakah sebelum diperintah Aji Wurawari, Lowram sudah ada pemukiman? Hampir dapat dipastikan Lowram saat itu sudah ada pemukiman besar. Sudah menjadi fatsal atau kerajaan bawahan juga, yang menjadi raja adalah paman dari Aji Wurawari, salah satu adik dari Makutha Wangsa Wardhana. Sepertinya ada kesepakatan bahwa bila anak pertama yang lahir dari permaisuri Raja Bawahan adalah perempuan, maka bila sudah besar harus dinikahkan dengan salah seorang anak Raja Atasan. Dan anak Raja Atasan tersebut yang menggantikan kedudukannya sebagai Raja Bawahan.

Sistem pernikahan politik semacam ini yang kerapkali memicu pemberontakan. Hampir setiap pemberontakan yang terjadi di suatu kerajaan selalu diinisiasi oleh seorang pangeran atau keturunan raja yang tidak kebagian tahta. Polanya selalu sama, membranding dirinya sebagai ratu adil. Sepanjang jaman selalu saja seperti itu. Bisa jadi Ken Arok pun juga masih keturunan Dharma Wangsa Teguh, dari pangeran yang tersisih dan terlupakan dari jalur pemerintahan. "Tidak semua keturunan raja bernasib baik, banyak yang menjadi orang biasa-biasa saja," kata Eyang Gatot Pranoto Panembahan Kunden Blora.

cepu-sebagai-kadipaten

Cepu Sebagai Kadipaten

Berbeda dengan Kerajaan Bawahan atau fatsal yang setingkat dengan Provinsi. Kadipaten merupakan Daerah Paling Istimewa yang merdeka tanpa harus menyetor pajak bagi Pemerintah Pusat dan hanya diperintah oleh Pangeran Pati atau Calon Raja atau Calon Sultan yang sah. Pangeran Pati atau Calon Raja adalah anak pertama dan berjenis kelamin laki-laki dari seorang Raja atau Sultan. 

Kadipaten adalah sebuah wilayah yang dipimpin oleh seorang Putera Mahkota atau Pangeran Pati dan karena statusnya, dibebaskan dari kewajiban membayar pajak kepada Pemerintah Pusat yang dipimpin oleh orang tua dari Putera Mahkota atau Pangeran Pati tersebut. 

Cepu pernah dua kali menjadi Daerah Paling Istimewa atau Kadipaten. Pertama di Desa Jipang sewaktu Pemerintahan Kasultanan Demak Bintoro dengan Adipati Pangeran Haryo Kikin atau Pangeran Sekar Seda Lepen dan Adipati Pangeran Haryo Penangsang. Pangeran Haryo Sekar adalah putera pertama Raden Patah atau Sultan Syah Alam Akbar Al-Fatah. Sedangkan Pangeran Haryo Penangsang adalah putera pertama Pangeran Haryo Kikin. 

Cepu menjadi Kadipaten atau Daerah Paling Istimewa untuk kedua kalinya di Desa Panolan semasa Pemerintahan Kasultanan Pajang dengan Adipati Pangeran Haryo Benawa. Adipati Pangeran Haryo Benawa adalah putera sulung Sultan Hadiwijaya. Hadiwijaya sendiri adalah menantu Raden Mukmin atau Susuhunan Prawoto. Melakukan pemberontakan terhadap kerajaan Demak Jipang. Membumi-hanguskan keraton Demak Jipang. Konstruksi keraton Demak Jipang yang terbuat dari struktur kayu jati menjadi rata dengan tanah. Tidak dikabarkan apakah masjid Demak Jipang ikut dibumi-hanguskan oleh pasukan Hadiwijaya atau tidak. 

Ketika Pangeran Haryo Benawa menginjak dewasa, Benawa dikirim berlatih memegang pemerintahan Negara ke Jipang. Dipercaya, Pangeran Haryo Benawa mempunyai kesamaan perilaku dengan Pangeran Haryo Penangsang. Melihat keadaan Jipang yang sudah rusak porak-poranda, Pangeran Haryo Benawa memilih untuk mendirikan rumah sekaligus pendopo Kadipaten di Desa Panolan Cepu.

Peta bangunan Kerajaan, Kasultanan, Kasunanan, Kadipaten, Kabupaten, Kademangan Islam Jawa selalu sama. Kalau tidak menghadap utara ya menghadap ke selatan. Pendopo dan ndalem utama menghadap alun-alun. Sisi barat alun-alun didirikan sebuah Masjid Agung. Dan sekitar alun-alun didirikan pasar. Sampah pasar dibuang di sungai terdekat oleh jajaran mantri pasar. Begitu pula dengan Kadipaten Panolan juga seperti itu.

Status Panolan sebagai Kadipaten bertahan hingga terbunuhnya Sultan Pajang - Hadiwijaya atau Jaka Tingkir karena diracun semasa pemberontakan Sutawijaya atau Raden Ngabehi Loring Pasar. Terbunuhnya Sultan Pajang dengan sendirinya menghilangkan status Pangeran Haryo Benawa menjadi pangeran biasa, bukan pangeran pati lagi, dan namanya digraduasi menjadi Pangeran Benawa atau Bupati Panolan atau Bupati Benawa saja. 

Sejak itu Panolan berstatus menjadi Kabupaten bawahan Kasultanan Mataram dan tetap menjadi Kabupaten hingga masa perjuangan Pemberontakan Pangeran Mangkubumi. Sewaktu pemberontakan Mangkubumi,  Bupati Panolan memihak VOC, mendapat bantuan tentara dari Bali, namun kalah melawan pasukan Mangkubumi yang digerakkan dari Blora. Mulai saat itu, keberadaan Kabupaten Cepu sudah tidak diakui lagi. Dan karena pentingnya koordinasi pemerintahan, maka Panolan yang semula vakum diberikan status sebagai Kawedanan pada masa Hindia Belanda. 

Awal-Cepu-menjadi-Terkenal

Awal Cepu menjadi Terkenal

Tahun 1908 ditemukan sumber minyak bumi di Desa Ledok Kecamatan Sambong, wilayah Cepu menjadi prioritas pengerukan sumber daya alam baru oleh Pemerintah Hindia Belanda. Stasiun Cepu Kota dibangun disambungkan dengan potensi pos-pos penebangan kayu jati Cepu yang dipercaya oleh Belanda sebagai kayu paling berkualitas di dunia. 

Kantor-kantor penting yang berhubungan dengan eksploitasi minyak dan kayu didirikan di Cepu. Hingga kantor pegadaian dan aula atau Soos didirikan di Cepu, di Blora tidak didirikan Soos atau gedung pertemuan. Jawatan kereta api, jawatan telepon dan telegraf, jawatan jalan dan jembatan, jawatan kehutanan, jawatan polisi hutan, jawatan listrik dan sebagainya didirikan di Cepu. Ditempatkan seorang Camat atau asisten residence di Cepu. Hingga postingan blog Cepuraya ini diterbitkan,  Jipang dan Panolan statusnya menjadi Desa yang dipimpin oleh Kepala Desa, dan Cepu tetap menjadi Kota Kecamatan yang dipimpin oleh seorang Camat. 

Kejayaan Panolan yang tidak dilalui jalan besar dan rel kereta api mulai surut. Peradaban mulai bergeser di Cepu. Para Cina dan pendatang dari luar daerah mulai memenuhi Cepu. Tidak tertatanya administrasi agraria dan pengelolaan asset saat itu membuat asset pemerintahan juga menjadi kocar-kacir. Tidak diketahui lagi sampai sekarang. Kecuali asset-asset yang dilindungi 'kearifan lokal' masih bertahan hingga kini seperti tanah masjid Agung Demak Jipang masih dapat diketahui di Desa Jipang Kecamatan Cepu. 

Pesan-Moral-Gerakan-Blogging-Cepu-Blora

Pesan Moral Gerakan Blogging Cepu Blora 

Sepanjang paragraf posting blog Cepuraya dengan judul "Kabupaten Cepu - Pondasi Sejarah Cepu Sebenarnya" dipenuhi dengan peristiwa berdarah, perang saudara. Terlukis jelas warna-warna perebutan Kekuasaan dan Warisan dengan segala intrik dan kekejaman yang memobilisasi dan mengorbankan banyak nyawa, tenaga, waktu, biaya serta pertaruhan nama. Politik identitas juga mewarnai semuanya. 

Entah kebenaran hakiki atau tidak, saat ini, Tuhan Yang Maha Esa telah menganugerahkan kepada kita sebuah bangsa dengan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia atas dasar Pancasila dan Undang-Undang 1945. Betapa Tuhan Yang Maha Esa telah menunjukkan bahwa kita harus terima apa adanya diri kita sebagai warga Negara yang merdeka ini. 

Oleh karenanya, mari kita terima apa adanya diri kita, menerima NKRI, Pancasila dan UUD 1945 sebagai bagian dari diri kita. Menjadikan kedamaian alam kemerdekaan ini untuk "memayu hayuning diri", "memayu hayuning kaluwarga", "mamayu hayuning bawana" serta "mamayu hayuning buwana."

(Heri ireng)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel